Peran Vital Badan Geologi dalam Penanggulangan Dampak Penurunan Muka Tanah - Memetakan Masa Depan Pantura Jawa

Peran Vital Badan Geologi dalam Penanggulangan Dampak Penurunan Muka Tanah - Memetakan Masa Depan Pantura Jawa

Pulau Jawa, khususnya wilayah Pantai Utara (Pantura), yang dikenal sebagai kawasan padat penduduk dan pusat aktivitas ekonomi nasional, saat ini tengah menghadapi ancaman serius berupa penurunan muka tanah (land subsidence). Fenomena ini bukan hanya berdampak pada kestabilan permukaan tanah, tetapi juga memperparah risiko banjir rob dan kerusakan infrastruktur vital.

Sebagai respons atas kondisi ini, Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah mengambil langkah strategis dengan menyusun Peta Kerentanan dan Peta Laju Penurunan Muka Tanah di Pulau Jawa. Sejak awal 1990-an, Pusat Air Tanah dan Geologi Tata Lingkungan (PATGTL) secara konsisten melakukan kajian dan pemantauan penurunan muka tanah di berbagai wilayah, khususnya di kawasan Pantura. Upaya ini menjadi bagian penting dalam mendukung perencanaan tata ruang dan kebijakan pembangunan yang lebih adaptif terhadap risiko geologi.


Peta Kerentanan dan Laju Penurunan Muka Tanah: Fondasi Ilmiah untuk Perencanaan yang Lebih Aman

Peta-peta yang disusun oleh Badan Geologi menjadi landasan penting dalam memahami risiko penurunan muka tanah, sekaligus mendukung perencanaan tata ruang yang lebih bijak dan berkelanjutan.

Peta Kerentanan Penurunan Muka Tanah Pulau Jawa

Badan Geologi telah menyusun Peta Kerentanan Penurunan Muka Tanah Pulau Jawa dengan skala 1:100.000 pada tahun 2023. Peta ini memetakan wilayah-wilayah yang rentan mengalami amblesan tanah, khususnya di atas endapan aluvium, gambut, dan batugamping.

Penurunan muka tanah di kawasan aluvium dan gambut umumnya terjadi secara perlahan akibat proses pemadatan alami (konsolidasi) dari lapisan tanah yang masih muda dan jenuh air. Sementara itu, di wilayah batugamping, penurunan bisa berlangsung lebih cepat akibat pelarutan batuan di bawah permukaan yang membentuk rongga atau saluran bawah tanah (conduit), sehingga tanah atau batuan di atasnya runtuh. Selain itu, erosi pada lapisan penutup tanah juga dapat menyebabkan penurunan muka tanah di daerah ini.

Gambar 1. Peta Kerentanan Penurunan Muka Tanah Pulau Jawa

Peta ini kini menjadi salah satu referensi penting bagi pemerintah dalam menyusun tata ruang dan rencana pembangunan wilayah, terutama untuk menghindari risiko bencana akibat penurunan muka tanah di masa mendatang.

Peta ini memberikan gambaran tingkat kerentanan alami terhadap penurunan muka tanah di Pulau Jawa. Wilayah berwarna kuning menunjukkan zona yang rentan terhadap penurunan muka tanah akibat proses alami di endapan aluvium dan gambut. Sementara itu, warna biru menggambarkan kerentanan di wilayah batugamping, di mana penurunan muka tanah dapat terjadi akibat pelarutan batuan bawah tanah. Adapun wilayah berwarna putih dikategorikan tidak rentan, meskipun secara lokal penurunan muka tanah tetap mungkin terjadi jika dilihat pada skala lebih rinci.


Peta Laju Penurunan Muka Tanah Pulau Jawa: Mengukur Seberapa Cepat Tanah Turun Setiap Tahun

Peta ini menunjukkan seberapa cepat permukaan tanah mengalami penurunan di berbagai wilayah di Pulau Jawa setiap tahunnya. Informasi ini diperoleh dari analisis data satelit menggunakan teknologi Interferometric Synthetic Aperture Radar (InSAR).

Gambar2. Peta Laju Penurunan Muka Tanah Pulau Jawa

Data laju penurunan ini sangat penting untuk mengidentifikasi area yang terus mengalami amblesan, sehingga dapat menjadi acuan dalam perancangan infrastruktur dan tata ruang yang lebih adaptif dan tahan terhadap perubahan permukaan tanah.

Peta ini juga memberikan informasi tingkat kecepatan penurunan muka tanah per tahun dengan kode warna yang mudah dipahami:

  • Merah: Wilayah yang mengalami penurunan sangat cepat, yaitu lebih dari 5 cm per tahun.

  • Kuning: Wilayah dengan penurunan sedang, yaitu antara 2 hingga 5 cm per tahun.

  • Hijau: Wilayah dengan penurunan lambat atau relatif stabil, yaitu kurang dari 2 cm per tahun.


Informasi ini penting untuk mengetahui area yang paling terdampak, sehingga bisa menjadi dasar dalam merancang langkah-langkah mitigasi dan pembangunan infrastruktur yang lebih tangguh.


Dua Peta, Satu Tujuan: Menavigasi Risiko Amblesan Tanah

Kedua peta tersebut bekerja seperti sepasang navigasi untuk menghadapi ancaman amblesan tanah: Peta Kerentanan memberi informasi "di mana" risiko itu berada. Sementara Peta Laju mengungkap "seberapa cepat" tanah mengalami penurunan setiap tahunnya.


Informasi gabungan ini membuka jalan bagi sejumlah langkah strategis:

1. Tata Ruang yang Adaptif

Pemerintah daerah maupun pusat dapat menggunakan data peta ini saat merevisi RTRW (Rencana Tata Ruang Wilayah) dan RDTR (Rencana Detail Tata Ruang). Pembangunan dapat diarahkan ke lokasi yang lebih aman, atau—jika tetap berada di zona rawan—dilakukan dengan teknik konstruksi khusus, seperti pondasi dalam atau pengurugan terpadu, agar tetap tangguh dan berkelanjutan.

2. Perlindungan Infrastruktur Vital

Di kota-kota Pantura seperti Jakarta, Semarang, dan Pekalongan, peta laju amblesan menjadi penentu desain tanggul, jalan, rel kereta, maupun fasilitas pelabuhan. Dengan mengetahui zona yang turun paling cepat, perencana dapat memprioritaskan penguatan struktur atau membangun perlindungan pantai (coastal protection) secara tepat sasaran.

3. Pengelolaan Air Tanah yang Berkelanjutan

Pengambilan air tanah berlebihan, terutama di area yang mengalami amblesan lebih dari 5 cm per tahun, menjadi faktor utama penyebab penurunan muka tanah. Dengan peta laju sebagai panduan, pemerintah dapat menerapkan pembatasan atau penghentian sumur-sumur dalam di zona kritis, serta mempercepat penyediaan air baku alternatif bagi masyarakat dan industri.


Singkatnya, kedua peta ini memberikan landasan ilmiah yang kokoh agar kebijakan tata ruang, infrastruktur, dan pengelolaan air tanah di Pantura Jawa lebih tanggap dan sigap menghadapi ancaman penurunan muka tanah yang kian nyata. Dengan informasi yang akurat dan komprehensif, langkah pencegahan dan mitigasi dapat lebih terukur, tepat sasaran, dan berkelanjutan demi masa depan wilayah Pantura yang lebih aman dan resilien.



sumber : Tim Kerja Geologi Teknik / 18 Juli 2025

Ikuti Berita Kami