Bandung, 07 Januari
2026 – Pusat Air Tanah dan Geologi Tata Lingkungan (PATGTL) Badan Geologi memperkuat
sinergi dengan Lembaga Advokasi Umat “ANSHORULLAH” dalam rangka membahas isu terkini
tentang kondisi geologi, hidrogeologi, serta pengelolaan air tanah dan
lingkungan di wilayah Bandung Raya.
Audiensi ini
dihadiri oleh unsur advokat, pemuka agama, pemerhati lingkungan, serta berbagai
komponen masyarakat sipil yang tergabung dalam Lembaga Advokasi Umat
“ANSHORULLAH”. Kegiatan tersebut bertujuan untuk memperoleh pemahaman yang
komprehensif mengenai kondisi kawasan Bandung Utara, khususnya dari aspek
hidrogeologi, sebagai dasar advokasi keselamatan masyarakat saat ini maupun di
masa mendatang.
Kegiatan audiensi
disambut oleh Ketua Tim Geologi Lingkungan PATGTL, Tantan Hidayat, S.T., M.T.,
serta dihadiri langsung oleh Kepala Pusat PATGTL Ir. Agus Cahyono Adi, M.T.
Pertemuan ini juga menjadi ajang silaturahmi dan penguatan komunikasi antara
pemerintah dan masyarakat sipil dalam upaya bersama menjaga keselamatan
lingkungan dan masyarakat.
Dalam sambutannya,
Ketua Lembaga Advokasi Umat “ANSHORULLAH”, Prof. Dr. Anton Minardi, S.H.,
S.IP., M.Ag., M.A., menegaskan bahwa keselamatan manusia harus menjadi landasan
utama dalam setiap kebijakan dan langkah mitigasi bencana.
“Barang siapa
memelihara kehidupan seorang manusia, maka seakan-akan dia telah memelihara
kehidupan seluruh manusia. Prinsip inilah yang menjadi dasar kami dalam
melakukan advokasi keselamatan masyarakat,” ujar Prof.
Anton Minardi.
Audiensi secara
resmi dibuka oleh Kepala Pusat PATGTL, Agus Cahyono Adi. Ia menyampaikan bahwa
kegiatan ini memiliki nilai strategis dan sejalan dengan fungsi PATGTL dalam
memberikan layanan geoservice kepada masyarakat.
“Kegiatan
audiensi ini merupakan salah satu pilar dalam Badan Geologi, yaitu geoservice,
yang berfokus pada kolaborasi dan penguatan layanan. Melalui kegiatan ini,
diharapkan tercipta keharmonisan serta koordinasi yang baik antara pemerintah
dan masyarakat,” ungkap Agus Cahyono Adi.
Agenda kemudian
dilanjutkan dengan pemaparan materi oleh Ir. Oki Oktariadi, M.Si. dengan judul “Danau
Bandung Purba, Sesar Lembang, dan Kota Bandung: Tiga Cerita yang Saling
Bertaut”. Dalam paparannya dijelaskan bahwa Kota Bandung berada pada
cekungan dengan lapisan tanah lunak yang pada beberapa lokasi memiliki
ketebalan signifikan. Kondisi tersebut merupakan hasil proses geologi alami
yang sekaligus memiliki potensi sumber daya alam, namun juga menyimpan potensi
bahaya geologi apabila tidak dikelola secara bijak.
Oki Oktariadi
menjelaskan bahwa pesona Kota Bandung sebagai kota dengan udara sejuk, kekayaan
budaya, dan destinasi kuliner unggulan perlu diimbangi dengan pemahaman
terhadap risiko geologi.
“Bandung adalah
kota yang memesona, dengan udara sejuk, kuliner unggulan, dan budaya yang
hidup. Namun, di balik pesona tersebut terdapat potensi bahaya geologi yang
harus dipahami dan dikelola dengan bijak,” jelasnya.
Dalam sesi diskusi,
Prof. Anton Minardi menyampaikan pertanyaan terkait mekanisme, regulasi, serta
pemanfaatan air tanah untuk kebutuhan sehari-hari. Menanggapi hal tersebut,
PATGTL menjelaskan secara rinci mengenai batasan pengambilan air tanah, perizinan,
serta tata cara pemanfaatan air tanah yang berkelanjutan sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan.
Sebagai upaya
konkret dalam mendukung pelestarian sumber daya air, Oki Oktariadi juga
mendorong penerapan pembuatan sumur resapan mandiri sebagai bagian dari
konservasi air tanah.
Pembahasan kemudian
dilanjutkan dengan penjelasan mengenai keberadaan sesar aktif di wilayah
Bandung Raya. Oki Oktariadi menekankan bahwa keberadaan sesar harus dipahami
secara ilmiah dan dihadapi dengan kesiapsiagaan.
“Sesar bukan
untuk ditakuti, melainkan untuk dihadapi dengan pengetahuan, kesiapsiagaan, dan
tindakan nyata,” tegasnya.
Beberapa sesar yang
menjadi perhatian antara lain Sesar Lembang, Sesar Cileunyi–Tanjungsari, Sesar
Cicalengka, Sesar Legok Kole, dan Sesar Jati.
Dalam kesempatan
tersebut, PATGTL juga menyampaikan bahwa pihaknya telah melakukan pemetaan
kondisi lingkungan serta penyusunan peta geologi lingkungan sebagai bahan
rekomendasi pengelolaan lingkungan wilayah Bandung dan Jawa Barat. Selain itu,
dijelaskan pula rekayasa teknis yang dapat diterapkan pada kawasan yang telah
padat atau melampaui batas maksimal Kawasan Wilayah Terbangun (KWT), antara
lain melalui pengendalian aliran air permukaan, revitalisasi waduk, serta
optimalisasi sumur resapan.
Audiensi ditutup
dengan diskusi interaktif antara PATGTL dan Lembaga Advokasi Umat “ANSHORULLAH”
yang menitikberatkan pada aspek perizinan, batasan pengambilan, serta payung
hukum pengelolaan air tanah. Kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan
pemahaman bersama dan mendorong peran aktif masyarakat dalam menjaga
keberlanjutan sumber daya alam.
Sebagai penutup,
Prof. Dr. Anton Minardi menyampaikan apresiasi atas keterbukaan dan penjelasan
yang diberikan oleh PATGTL.
“Kegiatan ini memberikan pelajaran dan ilmu yang sangat berharga bagi kami. Pemahaman ini dapat kami terapkan dalam kehidupan sehari-hari, khususnya dalam pemanfaatan air tanah secara bijak dan bertanggung jawab,” pungkasnya.