Pernah
membayangkan bagaimana bentuk permukaan sebutir polen jika diperbesar puluhan
ribu kali? Di balik ukurannya yang mikroskopis, polen ternyata memiliki ornamen
permukaan yang sangat rumit dan artistik. Ada yang berduri tajam (echinate),
ada pula yang berbutir halus (granulate). Untuk melihatnya, dibutuhkan
teknologi mikroskop berpresisi tinggi.
Polen
termasuk material organik yang tidak konduktif. Dalam pengamatan Scanning
Electron Microscope (SEM) konvensional, kondisi ini sering menimbulkan efek
charging berupa penumpukan muatan listrik yang membuat gambar terlihat
silau atau kurang tajam. Selain itu, kondisi tersebut dapat menyebabkan
kerusakan termal pada mikroskop konvensional. Karena itu, pemilihan jenis SEM
dan pengaturan tegangan menjadi faktor penting agar struktur asli polen tetap
terlihat jelas tanpa distorsi.
Laboratorium
Pusat Survei Geologi – Badan Geologi mencoba untuk menjawab tantangan tersebut.
Strategi yang diterapkan adalah dengan membandingkan tiga jenis SEM untuk
mengetahui seberapa baik masing-masing alat mampu menangkap detail pada sampel.
Tiga
instrumen SEM yang diuji memiliki karakter berbeda, yaitu:
Ketiganya digunakan untuk mengamati polen Senecio petasitis (berornamen duri) dan Barringtonia asiatica (berornamen butiran). Hasilnya menarik.
Ornamentasi
Echinate (Duri) pada Senecio petasitis
SEM
konvensional memberikan efek 3D yang kuat, namun ujung duri sering terlihat
silau (edge charging) pada perbesaran >10.000x. Hal ini terjadi
karena penggunaan filamen tungsten dengan arus yang relatif besar.
Detil
berupa ujung duri terlihat tajam dan tersebar merata pada perbesaran menengah
(~7.200x) dapat dilihat menggunakan SEM ringkas. Kontras yang dihasilkan pun
sangat stabil.
SEM
mutakhir memberikan kejernihan tekstur permukaan tingkat tinggi dan sangat
tajam. Alat ini berhasil menyaring elektron sehingga ujung duri (diameter
<185.2 nm) terlihat sangat tajam tanpa distorsi cahaya (zero-charging).
Ornamentasi
Granulate (Butiran) pada Barringtonia asiatica
SEM
konvensional dapat mengidentifikasi struktur dasar dengan lebar bibir apertur
sebesar 2,82 µm. Namun, pada skala ini, butiran granulat di dalam apertur
cenderung terlihat menyatu (fused) karena keterbatasan resolusi
dibandingkan model FEG.
SEM
ringkas menampilkan bentuk globular polen dengan efek 3D yang sangat kuat.
Meskipun sangat baik untuk morfologi umum, detail pada area apertur mulai
mengalami penurunan ketajaman (kabur) jika dipaksa pada perbesaran di atas 20.000x.
SEM
mutakhir memberikan hasil paling presisi dengan lebar apertur terukur 1,781 µm.
Perbedaan angka ini menunjukkan bahwa EF-SEM mampu membedakan batas asli
struktur tanpa distorsi dari lapisan coating emas yang tebal. Penggunaan
voltase rendah (1 kV) menjaga tekstur asli tanpa merusak struktur organik yang
sensitif.
Komparasi
hasil uji menggunakan tiga jenis SEM berbeda ditampilkan pada tabel berikut:
|
Fitur |
JEOL JSM-6360LA |
Phenom Desktop |
Thermo Scientific EF-SEM |
|
Resolusi |
Terbatas (~3-4 nm) |
Menengah (~2-4 nm) |
Sangat Tinggi (<1 nm) |
|
Artefak Charging |
Tinggi (Silau di ujung) |
Moderat |
Minimal (Sangat Bersih) |
|
Keunggulan |
Kedalaman fokus 3D |
Kecepatan & Kemudahan |
Akurasi Skala Nano |
|
Preparasi |
Lapis emas tebal |
Carbon Tape |
Carbon Tape |
Berdasarkan studi ini diperoleh
beberapa kesimpulan.
· Thermo Scientific EF-SEM dianggap sebagai yang
terbaik untuk riset nanoskulptur dan pengukuran presisi skala sub-nano. SEM
jenis ini mampu beroperasi pada voltase sangat rendah (low landing energy).
Oleh sebab itu, EF SEM adalah instrumen yang paling akurat untuk morfometri
nano (pengukuran presisi di bawah 1 µm).
· JEOL JSM-6360LA adalah pilihan utama untuk
dokumentasi taksonomi umum yang membutuhkan gambaran 3D utuh dengan biaya
efisien.
· Phenom Desktop SEM dianggap yang terbaik untuk studi statistik massal karena kecepatan loading sampel dan kemudahan operasional
Mengapa Ini Penting bagi Geologi dan
Industri?
Mungkin muncul pertanyaan: apa hubungan detail nanoskulptur polen dengan ilmu bumi atau kehidupan sehari-hari? Dalam dunia geologi dan bio-industri, analisis polen (Palinologi) adalah kunci untuk:
·
Rekonstruksi
lingkungan purba
·
Penentuan
umur relatif lapisan batuan
·
Studi
perubahan iklim masa lalu
· Melisopalinologi
(Studi Polen pada Madu): Analisis ini sangat krusial untuk menentukan sumber
tanaman (nektar) yang dikunjungi lebah. Dengan identifikasi polen yang presisi:
Lebih luas lagi, teknologi SEM yang sama juga digunakan untuk:
·
Mengamati
tekstur mineral lempung dan mineral alterasi hidrotermal
·
Mengkaji
porositas batuan reservoir dengan melihat hubungan antar butirnya
· Menganalisis partikel abu vulkanik berukuran sangat halus
Artinya, kemampuan melihat detail
hingga skala nano bukan hanya soal gambar yang tajam, tetapi soal akurasi data
geologi untuk menyingkap sejarah bumi jutaan tahun lalu maupun untuk
memastikan kualitas produk pangan saat ini.
Penulis : Woro Sri Sukapti dan Oki Nawawi
Penyunting : Tim Scientific Board – PSG