Site Museum sebagai Strategi Pengembangan Wilayah Berbasis Potensi Geologi

Potensi geologi bukan hanya soal batuan, fosil, atau bentang alam yang indah. Jika dikelola dengan tepat, potensi tersebut dapat menjadi penggerak edukasi, pariwisata, hingga ekonomi masyarakat. Inilah yang terus didorong oleh Museum Geologi melalui pengembangan Site Museum di berbagai daerah.

Komitmen tersebut kembali diperkuat melalui kegiatan Sarasehan Geologi Populer (SGP) yang diselenggarakan pada Sabtu (7/2) di Auditorium Museum Geologi. Mengusung tema “Konsep Pengembangan Wilayah Berbasis Potensi Geologi”, sarasehan ini menjadi ruang berbagi gagasan dan pengalaman lintas sektor.

Kegiatan ini diikuti oleh beragam kalangan, mulai dari Dinas Pariwisata se-Bandung Raya, mahasiswa Geologi dan Geografi, komunitas geowisata, pengelola kawasan wisata alam, para guru dan pelajar, hingga masyarakat umum. Antusiasme peserta menunjukkan bahwa isu pengelolaan potensi geologi semakin relevan dan diminati.

Dalam sambutannya, Kepala Museum Geologi, Raden Isnu Hajar Sulistyawan, menjelaskan bahwa Site Museum merupakan inovasi Museum Geologi dalam menghadirkan museum langsung di lokasi fenomena geologi yang unik. Tidak hanya berfungsi sebagai tempat pameran, Site Museum juga dikembangkan sebagai pusat konservasi, edukasi, dan pemberdayaan masyarakat.

“Hingga saat ini, Museum Geologi telah mengembangkan lima Site Museum, yaitu Site Museum Megalodon di Sukabumi, Site Museum Banjarejo di Grobogan, Site Museum Lembar Cisaar di Sumedang, Site Museum di Ciamis, serta Site Museum Tritik di Nganjuk. Seluruhnya dikembangkan pada skala desa, agar dampaknya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat sekitar”, ujar Isnu.

Melalui pendekatan ini, Site Museum diharapkan mampu menjadi ruang belajar bersama, sekaligus mendorong tumbuhnya aktivitas ekonomi lokal berbasis potensi geologi dan kearifan lokal.

Sarasehan Geologi Populer kali ini menghadirkan dua narasumber yang membahas Site Museum dari berbagai sudut pandang. Dr. Yun Yunus Kusumahbrata menyoroti peran Site Museum dalam mendukung edukasi geowisata dan geopark, terutama sebagai media pembelajaran yang kontekstual dan mudah dipahami masyarakat.

Sementara itu, Prof. Dr. Ir. M. Safari Dwi Hadian, S.T., M.T. mengulas pentingnya pengelolaan keragaman geologi secara berkelanjutan untuk mendukung pengembangan ekonomi masyarakat. Menurutnya, geologi tidak hanya memiliki nilai ilmiah, tetapi juga nilai sosial dan ekonomi yang besar jika dikelola dengan baik.


Diskusi berlangsung hangat dan interaktif. Peserta aktif bertanya dan berbagi pengalaman, menciptakan dialog yang memperkaya sudut pandang tentang peran geologi dalam pembangunan wilayah.

Melalui Sarasehan Geologi Populer, Museum Geologi menegaskan bahwa pengembangan wilayah berbasis potensi geologi bukanlah konsep yang jauh dari kehidupan sehari-hari. Dengan kolaborasi berbagai pihak, Site Museum dapat menjadi jembatan antara ilmu pengetahuan, pelestarian alam, dan kesejahteraan masyarakat.

Ke depan, Museum Geologi terus berkomitmen menghadirkan inovasi dan ruang dialog agar potensi geologi Indonesia dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan dan inklusif, demi masa depan yang lebih baik. Museum Geologi! Smart Museum, Smart People, Smart Nation.

Ikuti Berita Kami